Minggu, 17 April 2016

Menanam Jariyah di Pesantren Ar-Rosyidiyyah

Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh
Kepada para donator, berikut kami laporkan penyerahan bantuan program pompanisasi Part#2 di Pondok Pesantren Ar-Rosyidiyyah, Nalumsari Jepara.

Latar Belakang
Wudhu dan mandi merupakan kebutuhan mutlak bagi masyarakat muslim dalam menjalankan ibadah, hal tersebut termaktub dalam Hadist Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 ” Tidak diterima shalat salah seorang dari kalian apabila ia berhadas, hingga ia berwudhu.” 
(HR. Bukhari dan Muslim).

Allah SWT juga berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An Nisa’: 43)

Kenyataan di lapangan, masih banyak kita jumpai masyarakat yang tidak bisa melakukan perintah agama (mandi dan wudhu) tersebut lantaran tidak tersedianya perlengkapan penunjang seperti mesin pompa air dan perlengkapannya. Masyarakat harus antri berjam-jam untuk mendapatkan bantuan air, atau mereka perlu berjalan puluhan kilometer untuk mendapatkan air untuk bersuci, bersimpuh di depan Allah SWT. Atas dasar tersebut, kami (kelompok kecil) melakukan inisiasi untuk membantu mereka menyediakan peralatan dan perlengkapan penunjang untuk penyediaan air bersih di Masjid, Mushola, Tempat Umum dan Pondok Pesantren.

Pondok Pesantren Ar-Rosyidiyyah, Nalumsari-Jepara
Pondok Pesantren Ar-Rosyidiyyah adalah pondok pesantren salaf  yang terletak di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara,. Nama Ar-Rosyidiyyah diambil dari nama pendiri pondok pesantren yaitu KH. Rosyidi. Setelah Kyai Ar-Rosyidi wafat, kini pondok pesantren dilanjutkan oleh putranya yaitu Kyai Drs. Syaifuddin Zuhri M.Pd. Pondok pesantren yang didirikan pada tahun 1985 ini berada tepat di lereng gunung Muria. Kondisi ini menjadikan sumur di pondok pesantren masuk dalam kategori dalam (25 m) dan sering mengalami krisis air di musim kemarau. Meski terletak jauh dari pusat kota, Pondok Pesantren Ar-Rosyidiyyah menjadi salah satu tempat favorit bagi masyarakat sekitar untuk menuntut ilmu.
Bangunan Ponpes Ar-Rosyidiyyah Tampak Depan
Pondok Pesantren Ar-Rosyidiyyah mengasuh beberapa jenjang pendidikan yaitu PAUD, Madrasah Diniyyah, dan Madrasah Tsanawiyah Wustho/MTS. Jumlah santri yang menetap berkisar 70 orang sedangkan santri yang tidak menetap sekitar 200-300 orang. Selain kegiatan program wajib pesantren yakni kajian kitab klasik (kuning), program ekstra kurikuler di ponpes ini adalah  Rebana bagi santri Putra, dan menjahit bagi santri Putri. Saat ini, pengasuh pondok pesantren sedang merencanakan membuka program tahfidz Al-Quran. Rencana tersebut masih terkendala  SDM yakni belum adanya guru tahfidz yang mau mendedikasikan diri mengajar di Pondok Pesantren Ar-Rosyidiyyah.

Santri sedang Menelaah Kitab-Kitab Klasik

Kekeringan dan Kebutuhan Air
Kondisi air di pondok pesantren juga sangat minim. Saat ini, hanya tersedia satu sumur gali di belakang bangunan pondok pesantren. Sumur tersebut merupakan sumur milik warga, namun karena sering digunakan oleh para santri sehari-hari, kini sumur tersebut sudah diikhlaskan oleh pemiliknya kepada pondok pesantren. Karena keterbatasan biaya, sumur belum dilengkapi dengan pompa air. Hal ini membuat para santri harus menimba air sedalam kurang lebih 25 m setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya.

Ketika musim kemarau, kawasan di sekitar Pondok Pesantren mengalami krisis air. Pengasuh Pondok Pesantren membuat peraturan adanya larangan menggunakan air secara berlebihan oleh para santri. Peraturan itu makin diperjelas dengan dikeluarkannya dhawuh bahwa: santri hanya boleh mandi sekali dalam satu hari. Dalam kondisi yang serba terbatas dan minim persediaan air, tidak menyurutkan semangat para santri untuk menuntut ilmu di pondok pesantren Ar-Rosyidiyah ini.

Program Pompanisasi
Kelompok kecil yang peduli akan kebutuhan air untuk beribadah kepada Allah SWT, mencoba melakukan inisiasi menyelesaikan permasalahan ketersediaan air bagi masyarakat. Kami terdiri dari 3 orang mencoba menjelaskan pentingnya ketersediaan air bagi masyarakat kepada teman dan kerabat terdekat kami. Pada bulan Maret ini, kami berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 5.520.000, dari fund rising kepada teman-teman kami, rinciannya adalah;

1. Rp. 1.120.000, (sisa dana Pompanisasi Part#1)
2. Rp. 1.000.000, (Ed) 
3. Rp. 500.000 (AM)
4. Rp. 500.000 (Adt)
5. Rp. 300.000 (Nva) 
6. Rp. 250.000 (Tvp) 
7. Rp. 250.000 (Mgh) 
8. Rp. 200.000 (FA)
9. Rp. 200.000 (Ichsn) 
10. Rp. 100.000 (Indr)
11. Rp. 100.000 (Eb)
12. Rp. 100.000 (Tmi)
13. Rp. 100.000 (Ay)
14. Rp. 100.000 (UN)
15. Rp. 100.000 (Gni)
16. Rp. 100.000 (Ros)
17. Rp. 100.000 (Bpr)
18. Rp. 200.000 (Mlda)
19. Rp. 100.000 (IG)
20. Rp. 50.000 (Nrl)
21. Rp. 50.000 (Tw)

Dana yang bisa disalurkan ke Pesantren Ar-Rosyidiyyah sebesar Rp. 5.300.000, dengan rincian sebagai berikut:
1. Pompa Jet Shimizu PC-268 BIT Daya 250-375 Watt (Rp. 1.650.000)
2. Pipa
hisap  32 batang (Rp. 288.000)
3. Pipa
distribusi (52 meter) (Rp. 338.000)
4. Perlengkapan lain ( Kran, lem, dll) (Rp.
524.000)
5. Tanki Air Penguin kapasitas 2000 liter (Rp. 2.500.000)*

Bantuan tersebut harapannya dapat digunakan untuk membantu menyediakan air bersih bagi santri dan masyarakat sekitar, terutama digunakan untuk sumur yang belum ada pompa, perlengkapan dan tanki air.
Uang yang tersisa saat ini sebesar Rp.
220.000,- Dana ini Insya-Allah akan kami salurkan pada program pompanisasi Part#3. Mohon doa dan dukungannya.
Penyerahan bantuan pompanisas ke Pondok Pesantren AR-Rosyidiyah dilakukan pada hari Senin, 4 April 2016. Bantuan diterima langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Bpk Drs. Syaifuddin Zuhri M.Pd.
Penyerahan Donasi oleh Panitia (Hisyam Ar-Rifqi)
Kepada Pengasuh Pesantren (KH. Syaifudin Zuhri)

Bapak Kyai Drs. Syaifuddin Zuhri M.Pd selaku pengasuh pondok pesantren Ar-Rosyidiyyah, sangat berterima kasih kepada para donatur yang telah rela dan ikhlas memberikan bantuan untuk penyediaan pompa dan perlengkapannya di pondok posantren. Beliau berdoa, semoga donasi tersebut bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir selama air masih mengalir dan digunakan oleh para santri di pondok pesantren. Beliau juga berharap, semoga hajat para donatur dikabulkan oleh Allah Subhanallahuwata’ala dan mendapatkan balasan terbaik dariNya. Aamiin.
Kami selaku inisiator pompanisasi senantiasa berdoa semoga pihak-pihak yang dengan ikhlas membantu kegiatan ini Allah senantiasa catat sebagai amal jariyah, Allah tambah rizkinya, dan Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan hidupnya. Ammin Ya Mujibassailiin.

Hormat Kami

Ali Mahfud
Futrotun Aliyah
Imam Nugraha

Selasa, 05 April 2016

🍀 Balasan Allah bagi Hambanya yang Zuhud Dunia 🍀

Zuhud adalah mengosongkan hati dari kecintaan terhadap dunia. Ruang-ruang kosong hatinya tertuju pada kecintaan terhadap Allah SWT. Kebalikan zuhud adalah "hubbud dunya" atau cinta dunia yaitu menjadikan dunia sebagai orientasi dalam menjalani hidup, sangat amat kecil ruang hatinya diisi "kehadiran" Allah SWT.

Secara umum cinta dunia diwakili 3 hal yaitu harta, jabatan/tahta dan seksualitas (biologis). Jika dalam hati kita tiga hal tersebut begitu dominan, itu tanda kita masih jauh dari kategori Zahid ( orang zuhud ). Padahal seseorang yang bisa zuhud dunia Allah menjanjikan beberapa hal :

Nabi bersabda " Barangsiapa yang berzuhud dalam urusan dunia, Allah akan mengajarkan kepadanya pengetahuan tanpa harus belajar, Allah akan memberi hidayah kepadanya tanpa ia mencari petunjuk, dan Allah akan menjadikan dia mampu melihat sesuatu yang dzohir maupun batin....(HR. Abu Nuaim dr Sayidina Ali )

Dari hadis di atas terlihat bahwa seorang zahid akan mendapat ruang khusus di depan Allah. Maka tidak heran jika para sahabat dan aulia (wali) dahulu mampu menghasilkan karya fenomenal padahal belum ada fasilitas dan teknologi yang mendukung.

Imam Syafii misalnya mampu mengasilkan kitab dalam waktu yang singkat yaitu :
1- Kitab Al Umm yang dikumpulkan oleh murid beliau, Ar Robi’ bin Sulaiman.
2- Kitab Ikhtilaful Hadits.
3- Kitab Ar Risalah, awal kitab yang membahas Ushul Fiqh.Kitab-kitab tersebut sampai saat ini masih bermanfaat dan menjadi rujukan umat islam di Dunia.


Imam Malik, Seorang ulama multi talenta. Diceritakan bahwa di pagi hari Imam Malik berprofesi menjadi pengajar, sore hari sebagai Fashion Designer dan ahli teknik sipil (Civil engineering) dan malam hari menjadi seorang sufi. Kitab monumental Imam Malik adalah Al-Muwatha' yang masih menjadi rujukan bagi umat islam saat ini.

Itulah bukti bahwa zuhud menjadi jalan bagi seorang hamba untuk mendekat kepada Allah dengan jalur khusus.Semoga kita bisa meningkatkan kezuhudan kita. Aamiin

*Disarikan dari Kajian Kitab Muhktarul Hadist

Rabu, 30 Desember 2015

Menanam Berkah di Pesantren Anak Jalanan


Assalamalikum waraohmatullahi Wabarokatuh
Kepada para donatur, berikut saya laporkan kegiatan pompanisasi tempat ibadah.

Latar Belakang
Wudhu dan mandi merupakan kebutuhan mutlak bagi masyarakat muslim dalam menjalankan ibadah, hal tersebut termaktub dalam Hadist Nabi Muhammad SAW. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Tidak diterima shalat salah seorang dari kalian apabila ia berhadas, hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah SWT juga berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An Nisa’: 43)

Kenyataan di lapangan, masih banyak kita jumpai masyarakat yang tidak bisa melakukan perintah agama (mandi dan wudhu) tersebut lantaran tidak tersedianya perlengkapan penunjang seperti mesin pompa air dan perlengkapannya. Masyarakat harus antri berjam-jam untuk mendapatkan bantuan air, atau mereka perlu berjalan puluhan kilometer untuk mendapatkan air untuk bersuci, bersimpuh di depan Allah SWT.
Atas dasar tersebut, kami (kelompok kecil) melakukan inisiasi untuk membantu mereka menyediakan peralatan dan perlengkapan penunjang untuk penyediaan air bersih di Masjid, Mushola, Tempat Umum dan Pondok Pesantren.

Pesantren Ibnu Sabil
Program ini kita mulai pada bulan Desember 2015, di awal Desember 2015 kami melakukan fund rising kepada kerabat terdekat untuk membantu menyediakan perlengkapan penunjang di Pesantren Zainul Bahar yag berada di Ds. Wiringin Pasar, Kec. Wiringin, Kab. Bondowoso. Dalam perjalanannya kami mengalami hambatan komunikasi dengan pesantren setempat, sehingga kami memutuskan untuk membantu Ponpes Ibnu Sabil yang berada di Kec. Jonggol, Kab. Bogor.

Pondok Pesantren Ibnu Sabil merupakan ponpes yang secara khusus memiliki program pendidikan tahfiz dan penampungan anak jalanan. Sehingga tidak heran jika seluruh santrinya (25 santri) merupakan bekas anak jalanan yang berasal dari seluruh wilayah di Indonesia yang pada bulan ini (Desember 2015) sudah hafiz 2 juz.

Acara Wisuda Hafidz 2 Zuz
Santri dari Ambon
Ponpes Ibnu Sabil memiliki trik jitu dalam menggembleng santrinya menjadi santri yang mandiri. Santri di sini intinya harus menggerakkan tangannya agar Allah senantiasa memberikan rizkinya. Dengan bermodal tanah seluas -+ 9000 M2 pesantren membagi-bagi tanah menjadi beberapa bagian yakni bangunan (kelas dan masjid), lapangan, kolam ikan dan tanah kosong. Lahan tersebut menjadi modal santri untuk melatih mengelola aset. Tanah kosong sengaja dibiarkan ditumbuhi rerumputan agar kambing yang mereka miliki leluasa merumput. 

Kolam Ikan


Kandang Ayam dan Bebek
Santri yang tinggal di ponpes ini berkewajiban menggembalakan kambing (40 ekor), merawat ternak ayam dan bebek, dan merawat ikan (7 kolam ikan). dengan desain tersebut, santri diharapkan terbiasa untuk bekerja keras dan memiliki jiwa wirausaha yang sangat dibutuhkan di masa depannya.

Kebun Penggembalaan Kambing
Kandang Kambing
Kekeringan dan Kebutuhan Air
Kecamatan Jonggol yang berada di Kab. Bogor merupakan salah satu daerah yang seringkali mengalami kekeringan. Meski dekat dengan sungai, namun ketersediaan air tidak bisa diandalkan ketika musim kemarau melanda. Masyarakat sekitar pondok dan santri tentunya mengandalkan air dari sumur.
Untuk memenuhi kebutuhan para santri, pihak yayasan membuat sumur galian sebanyak 5 buah dengan tujuan jika musim kemarau datang masih tersedia salah satu sumur yang bisa diandalkan. Banyaknya sumur galian yang dibuat secara otomatis membutuhkan alat penunjang berupa tanki air dan pompa air. Saat ini, dari lima sumur yang dibuat tersebut, masih ada satu sumur yang belum tersedia tanki air dan pompanya.
 
Tempat Penampungan dari Sumur Galian
Program Pompanisasi
Kelompok kecil yang peduli akan kebutuhan air untuk beribadah kepada Allah SWT, mencoba melakukan inisiasi menyelesaikan permasalahan ketersediaan air bagi masyarakat. Kami terdiri dari 3 orang mencoba menjelaskan pentingnya ketersediaan air bagi masyarakat kepada teman dan kerabat terdekat kami. Pada bulan Desember ini, kami berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 6.130.000, dari fund rising kepada teman-teman kami, rinciannya adalah;

1. Rp. 1.000.000, (Ad)

2. Rp. 1.000.000, (Drj)
3. Rp. 2.000.000, (Ed)
4. Rp. 500.000. (FA)
5. Rp. 500.000, (AM)
6. Rp. 500.000, (LTF)
7. Rp. 300.000, (An)
8. Rp. 100.000, (IM)
9. Rp. 100.000, (DW)
10. Rp. 30.000, (TW)
11. Rp. 100.000, (X)

Dana yang bisa disalurkan ke Pesantren Ibnu Sabil sebesar Rp. 5.010.000, dengan rincian sebagai berikut:

1. Pompa Jet Shimizu PC-268 BIT Daya 250-375 Watt (Rp. 1.650.000)
2. Pipa AW Maspion  ukuran 1-1/4  7 batang ( 28 meter) (Rp. 252.000)
3. Pipa Salur  AW Maspion abu-abu 8 batang (32 meter) (Rp. 208.000)
4. Perlengkapan lain ( Kran, lem, dll) (Rp. 400.000)
5. Tanki Air Penguin kapasitas 2000 liter (Rp. 2.500.000)*

Sehingga, Uang yang tersisa saat ini sebesar Rp. 1.120.000,- Dana ini Insyallah pada bulan Januari/Februari akan kami salurkan pada Mushola Daarul Ikhsan, RT 03 Desa Haliau, Kec. Batu Benawa, Kab. Hulu Sungai Tengah. Mohon doa dan dukungannya. Lokasi ini sudah disurvey oleh tim kami.
Penyaluran bantuan dilakukan pada hari Minggu, 27 Desember 2015 tepat di halaman pondok pesantren dengan Ust. Yerri (Pengurus)



Bantuan tersebut harapannya dapat digunakan untuk membantu menyediakan air bersih bagi santri dan masyarakat sekitar, terutama digunakan untuk sumur yang belum ada pompa, perlengkapan dan tanki air.

Kami selaku inisiator pompanisasi senantiasa berdoa semoga pihak-pihak yang dengan ikhlas membantu kegiatan ini Allah senantiasa catat sebagai amal jariyah, Allah tambah rizkinya, dan Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan hidupnya. Ammin Ya Mujibassailiin. 

Hormat Kami

Ali Mahfud
Futrotun Aliyah, ST. M.Eng
Imam Nugraha  

Selasa, 29 Desember 2015

Bijak Memanfaatkan Air; Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Bismillahirrohmannirrohiim
Alhamdulillahirobbil 'Aalamiin

Air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk di bumi ini. Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi menjadi bukti bahwa Allah mencintai rakyat Indonesia. Kecintaan Allah tersebut terlihat dari luasnya lautan, sungai-sungai dan hutan. Ketiga kekayaan tersebut merupakan sumber kehidupan yang wajib disyukuri karena didalamnya  terdapat air. Allah SWT telah berfirman tentang peran air sebagai sumber kehidupan makhluknya.

"Dan Dialah yang menurunkan air "hujan" dari langit lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS. 6:99)"

Nikmat Allah yang besar (lautan, sungai dan hutan) tersebut jika tidak dikelola dengan baik maka akan mendatangkan kesengsaraan bagi manusia itu sendiri. Lihatlah ketika musim kemarau datang (air tidak tersedia) begitu banyak manusia yang berteriak dan mengeluh karena kekurangan air, timbulnya kebakaran hutan dan banyaknya tanaman yang gagal panen karena kekeringan.

Sebenarnya konsep pengelolaan sumberdaya air itu sangat sederhana yakni :

1. Sediakan tempat penampungan 

Hutan merupakan tempat penampungan air yang sangat efektif. Hutan memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air yang jatuh di muka bumi. Air tersebut disimpan dan dikeluarkan secara perlahan, sehingga ketika musim kemarau datang air tersebut tetap mengalir. Gunawan (2015) seorang ahli kehutanan mengungkapkan bahwa sumber air di Klaten yang dijadikan sebagai sumber utama perusahaan tersebut merupakan air hujan yang tersimpan di kawasan hutan selama 600 tahun yang lalu.

2. Jangan sia-siakan air

Tahun 2014 kemaren Majlis Tarjid dan Tajdid Muhammadiyah memfatwakan bahwa dalam berwudhu hendaknya tidak perlu melakukan pengusapan anggota badan yang wajib dibasuh dengan 3 kali basuhan. Alasan utamanya adalah melakukan penghematan air dan menyikapi keadaan Indonensia yang saat ini sudah mengalami darurat air bersih.

Masyarakat Indonesia dinilai melakukan pemborosan dalam menggunakan air sehingga perlu dicegah. Negara yang kaya akan sumberdaya air mengalami darurat air bersih mencerminkan bahwa manusianya begitu semberono dalam memanfaatkan air. Kesembronoan masyarakat Indonesia tersebut terlihat dari bagaimana mereka menggunakan air untuk mandi, bagaimana mereka membuang sampah ke sungai dan bagaimana mereka dengan sengaja melakukan pembakaran hutan dan penebangan hutan secara massif.

Memanfaatkan air dan menjaga alam dengan arif merupakan salah satu langkah kongrit mempertahankan kehidupan yang nyaman di bumi ini dan bentuk kongrit mensykuri nikmat yang diberikan Allah SWT.

Rabu, 11 November 2015

Kupatan, Hari Raya Ke-3 di Jepara


Jepara dikenal khalayak umum sebagai kota ukir. Sebutan kota ukir memang sangat layak disematkan pada kota yang menjadikan produk meubel sebagai salah satu produk unggulan, dan ukiran adalah salah satu identitas mebel Jepara. Masyarakat Jepara begitu handal dalam seni ukir, bahkan hebatnya mereka bisa mengukir tanpa ikut kursus di lembaga formal maupun informal. Seakan Allah SWT memiliki desain tangan khusus ketika menciptakan manusia Jepara (SubhanAllah, Kun Fa Yakun).
        Meski Jepara lebih dikenal sebagai kota ukir, sebutan lain yang tidak kalah populer adalah kota santri. Sebutan ini juga sangat layak disematkan ke kota Jepara lantaran begitu banyaknya jumlah pondok pesantren, tingginya persentase penduduk beragama islam dan banyaknya ritus budaya yang sangat kental dengan nuansa agama islam.
      Pertemuan budaya lokal dan agama (islam) yang begitu dominan di Jepara menciptakan karya-karya fenomenal. Salah satu karya fenomenalnya adalah hari raya ketupat (Kupatan-red). Jadi, di Jepara terdapat tiga hari raya yang terkenal yakni hari raya Iedul Fitri, Iedul Adha, dan Kupatan. Kupatan tidak hanya populer di mata masyarakat Jepara tapi juga terkenal sampai ke daerah-daerah sekitar Jepara seperti Kudus, Pati, dan Demak.  Bahkan ketika saya masih belajar di Yogyakarta, banyak masyarakat Yogyakarta yang mengenal hari raya ketupat.

Kupat dan Lepet
       Kupat dan Lepet merupakan makanan khas yang disajikan pada hari raya ketupat atau kupatan. Kupat (bahasa jawa-red) atau ketupat merupakan makanan yang berupa nasi putih (beras biasa) yang dibungkus daun kelapa (hijau). Istilah kupat merupakan gabungan dua suku kata yakni “ku” yang berarti aku, kulo (bahasa jawa-red)  atau saya dan “pat” dari kata lepat (bahasa jawa-red) yang artinya lupa, khilaf, salah. Ketupat yang berbentuk segi empat memiliki filosofi yang dalam, yakni menggambarkan empat arah mata angin (segala arah), namun sumber lain menjelaskan bahwa bentuk kupat (segi empat) melambangkan bentuk hati manusia. Jadi kupat secara istilah didefinisikan sebagai makanan yang dibuat sebagai perwujudan permintaan maaf atas kesalahan yang bisa berasal dari semua arah (mulut, mata, hidung, tangan, kaki dll). Ketupat sengaja dibungkus dengan daun hijau (luar) yang bermakna kesalahan fisik (luar, lahir).
    Lepet juga merupakan nasi putih dari beras ketan yang dibungkus daun kelapa muda (daun kuning atau janur). lepet maksudnya mangga dipun silep ingkan rapet atau mari kita kubur (kesalahan) yang rapat. Daun kelapa yang berwarna kuning (masih sangat muda, belum mekar dan diambil dari bagian dalam)  atau janur merupakan singkatan dari sejatine nur (cahaya sejati). Janur sengaja dipilih untuk membungkus nasi ketan memiliki makna yang sangat dalam yakni merepresentasikan kesalahan batin (dalam).
   Jadi, ketupat merupakan perwujudan permintaan maaf atas kesalahan secara lahir (lahiriyah) sedangkan lepet merupakan perwujudan permintaan maaf atas kesalahan batin (Batiniyah). Kupatan merupakan momentum untuk saling memaafkan kesalahan lahir dan batin (Dzohiron Wa Baatinan).

Hari Raya Ketupat atau Kupatan
      Ketupat dan lepet memang banyak ditemukan di daerah lain di luar Jepara. Namun perayaan hari raya ketupat tidak banyak ditemukan selain di Jepara kota santri. Hari raya ketupat di Jepara jatuh pada hari ke 7 setelah hari raya idul fitri.  Pemilihan hari untuk perayaan kupatan ini tidak sembarangan, bukan hasil browsing dari mbah google apalagi hasil bertapa. Pemilihan hari ini menyesuaikan hadis nabi Muhammad SAW:
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh."
(H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

    Puasa syawal merupakan puasa sunnah yang fadhilah (kegunaan) sangat besar, namun banyak yang meninggalkannya baik karena alasan malas maupun karena alasan fikih yang mendudukan puasa syawal sebagai puasa sunnah bukan puasa wajib. Alasan malas memang bisa diterima akal, karena puasa sunnah yang lainnya diakhiri dengan adanya perayaan hari kemenangan (Yaumul Ied). Puasa Arofah dan Tarwiah di bulan Dzulhijjah misalnya diakhiri dengan perayaan hari raya Iedul Adha, puasa ramadhan selama se bulan penuh di akhiri dengan perayaan Iedul Fitri. Sedangkan puasa sunnah syawal secara fikih tidak ditemukan dalil naqli yang menjelaskan adanya perayaan atas selesainya puasa syawal selama 6 hari tersebut, sehingga kurang menarik bagi khalayak umum khususnya kaum abangan (awam).
   Ulama’ di tanah jawa tidak kehilangan akal dalam berdakwah, dengan berpegang pada hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kebahagiaan orang yang berpuasa yaitu:

 Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya. (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Hadis tersebut secara eksplisit memberikan motivasi kepada siapa saja yang menjalankan puasa (Ramadhan) bahwa ada kenikmatan besar yang akan kita rasakan ketika kita berhasil menjalankan puasa. Secara implisit, hadis tersebut menjadi dasar bagi kita bahwa ketika kita mengajak seseorang untuk melakukan kebaikan (amar ma’ruf), hendaknya kita menggunakan dan menunjukkan “madu” kepada orang yang kita ajak.
    "Madu” itulah yang digunakan oleh para Ulama’ di tanah jawa untuk meng ”iming-imingi” masyarakat Jawa khsusnya Jepara untuk menjalankan puasa syawal (6 hari).  Madu tersebut adalah hari raya ketupat atau kupatan. Sejak itu, hari raya ketupat sangat populer di Jepara. Hari raya ketupat bukanlah masuk dalam kategori Ubudiyah (ibadah mahdzoh atau ghoiru mahdzoh), namun merupakan kebiasaan/adat (Urf) karya ulama-ulama Jawa khususnya Jepara. Dalam ilmu fikih, urf (kebiasaan/adat) yang sudah ada dalam masyarakat tidak dilarang (haram) selama tidak bertentangan dengan hukum islam. Oleh karea itu, budaya kupatan sampai sekarang tetap lestari di bumi kartini.
     Dalam menciptakan suatu budaya/kebiasaan (urf) baru yang baik, Para Ulama’ Jawa juga berpegang teguh pada hadist Nabi Muhammad SAW berikut:

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. 
 (HR. Muslim No 1016)

    Pada hari raya ketupat, para warga yang beragama islam membawa kupat dan lepet ke masjid dan mushola terdekat. Sebelum kupat dan lepet dibagikan dan dinikmati bersama-sama, Imam masjid akan memimpin doa terlebih dahulu. Rangkaian doa yang wajib di baca adalah dua kalimat syahadad, istighfar sholawat, tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan surat-surat pendek. Masyarakat sengaja dikumpulkan untuk mendoakan kupat dan lepet karena mengacu pada hadis nabi berikut:

“Berkumpullah kalian ketika makan, dan sebutlah nama Allah padanya. Maka makanan kalian akan diberkahi” 
(HR Abu Dawud) 
 
    Kupatan kini sudah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara sebagai agenda tahunan. Kupatan kini tidak hanya mengingatkan dan mengajak masyarakat Jepara untuk menjalankan puasa syawal 6 hari, tapi  juga sebagai momentum penggerak perekonomian masyarakat Jepara. Hal ini terjadi karena setiap hari raya ketupat semua tempat wisata di Jepara dibanjiri pengunjung. Masyarakat kecil mampu menjual makanan dan karya-karyanya kepada para pengunjung, Pemerintah Kabupaten juga mendapatkan guyuran “dana” dari pendapatan daerah non-pajak (karcis) dan pendapatan dari pajak (banyaknya izin promosi/iklan di tempat wisata).
   Begitulah cara para ulama’ terdahulu dalam berdakwah dan menggerakkan roda perekonomian. Dengan kesantunan, keilmuan dan kreativitas mereka mampu mempertahankan dan membumikan nilai-nilai islam di bumi kartini. Kondisi ini dalam istilah populer disebut dengan pribumisasi islam, istilah pribumisasi islam sendiri dipopulerkan oleh KH. Dr. (Hc). Abdurrahman Wahid. Islam dibangun dari karya dan kreativitas. Islam selalu compatible dalam setiap tempat dan waktu (Likulli Zamanin Wa Makan) ketika pemeluk islam itu sendiri mampu memaknai dan menghayati intisari islam.
   Semoga dengan adanya perayaan hari raya ketupat, kita senantiasa teringat dan semangat dalam menjalankan puasa syawal (6 hari) dan senantiasa mendoakan ulama’ yang telah mencurahkan pikirannya dalam berdakwah di bumi nusantara. Amiin ya Mujibassailiin. 

_________________________***Wallahu A'lam Bi Showab***_______________________


Bangsri, 06 Syawal 1436
*Istilah kupat dan lepet dalam tulisan ini diperoleh dari diskusi dengan sesepuh di Bangsri dan studi literatur yang sedikit “amatiran”.